| HABITAT SATWA : Kerusakan Rawa Pacing Ganggu Spesies Dilindungi |
|
|
|
| Jumat, 21 October 2011 13:40 |
|
BANDAR LAMPUNG (Lampost): Kondisi Rawa Pacing di Kecamatan Menggala, Tulangbawang, rusak. Beberapa burung langka dan dilindungi menghilang dari rawa itu. Bahkan, ada rencana untuk mengubah rawa menjadi perkebunan kelapa sawit. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Lampung mencoba menggali kondisi kerusakan dan langkah penyelamatan Rawa Pacing dalam diskusi yang akan digelar, Jumat (21-10). Diskusi bertema Kondisi Rawa Pacing yang akan dikonservasi menjadi lahan perkebunan sawit seluas 600 ha ini akan digelar di Kantor Walhi. Direktur Walhi Hendrawan, Kamis (20-10), mengatakan kondisi Rawa Pacing sudah berubah. Satwa yang sebelumnya tinggal di rawa pergi akibat kerusakan habitat dan pembakaran hutan.
Selain kerusakan habitat, kata dia, Rawa Pacing yang sebagaian berstatus tanah marga sudah diperjualbelikan oknum kepada pengusaha. "Yang disayangkan masyarakat sekitar yang merupakan warga pendatang belum mengetahui dengan pasti siapa yang bertanggung jawab atas eksekusi pembangunan kanal dan rencana konservasi lahan menjadi perkebunan kelapa sawit," kata Hendrawan.
Menurut Hendrawan, Rawa Pacing dipenuhi rumput, semak belukar, dan kayu gelam. Lokasi ini dijadikan tempat penelitian, khsusunya spesies burung langka yang menjadi objek.
Dalam catatan Wetlands internasional tahun 1994, Rawa Pacing memiliki nilai konservasi tinggi karena keberadaannya mendukung kehidupan berbagai jenis burung air. Lahan basah ini menjadi habitat yang sesuai bagi salah satu koloni berbiak burng air yang terbesar di Indonesia.
Bahkan, Rawa Pacing menjadi tempat berkembang biak pertama untuk jenis pecuk ular asia (Anhinga melanogaster) di Sumatera. Sebanyak 88 spesies burung dari 33 famili telah teridentifikasi keberadaanya di Rawa Pacing. "Dari spesies yang ada, sebanyak dua spesies termasuk langka dan 16 spesies dilindungi," kata dia.
Selain tempat spesies langka, kata dia, warga juga menggantungkan hidupnya dengan mencari ikan dan beternak kerbau rawa di lokasi yang akan segera menjadi perkebunan sawit tersebut. Walhi mendesak agar perusakan habitat dan konservasi rawa menjadi perkebunan sawit harus segera dihentikan.
Keberadaan Rawa Pacing sebagai aset ekologi dan ekonomi masyarakat harus segera diselamatakkan. Hendrawan menambahkan membangun kesadaran masyarakat dalam menjaga keberadan rawa tersebut tidak cukup. Perlu juga langkah untuk menindak oknum yang berani menjual rawa.
"Upaya penyelamatan rawa oleh semua stakeholder belum terlambat. Upaya penyelamatan perlu melibatkan pemuka masyarakat dan warga sekitar," ujarnya. (MG-2/K-2)
|














